Sabtu, 03 Oktober 2015

Teknologi Impian, Tempat Sampah Bersensor dan Daur Ulang Otomatis.

Sampah merupakan salah satu masalah kompleks yang dihadapi baik oleh negara negara berkembang ataupun negara maju sekalipun. Masalah sampah adalah masalah umum dan telah menjadi fenomena universal bagi setiap negara di belahan dunia manapun, dengan patokan perbedaan seberapa banyak sampah yang diciptakan oleh setiap negara.
Terlepas dari arti sampah itu sendiri, sampah dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah Organik adalah sampah yang berasal dari alam atau berasal dari sisa-sisa tubuh makhluk hidup (hewan/tumbuhan). Sampah organik ini termasuk sampah yang mudah diuraikan oleh bakteri pengurai/diuraikan dengan proses alami dan berlangsung dengan cepat. Contohnya : sampah sisa dapur, daging, daun-daunan, buah, tepung dan lain-lain. Dan Sampah Anorganik adalah sampah yang berasal dari SDA (sumber daya manusia) yang tidak dapat diperbaharui lagi serta sampah yang berasal dari proses industri. Contohnya : Kertas, karton, sampah plastik, kaca, kaleng, dan lain-lain.
Permasalahan sampah ini sebenarnya akan mudah diselesaikan jika dilakukan dengan prinsip 4R yaitu Reduce (Mengurangi), sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. ‪Kemudian reuse (memakai kembali), sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.‬ ‪Recycle (Mendaur ulang), yaitu sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang, karena tidak semua barang bisa didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.‬ ‪Replace (Mengganti), teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, misalnya ganti kantong kresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami
Di indonesia sendiri tingkat pemasalahan lingkungan akibat pengelolaan sampah sudah ibarat kanker sudah memasuki stadium IV, hanya mampu diselesaikan dengan amputasi. Kondisi parahnya pengelolaan sampah di indonesia memang sudah tidak bisa di anggap sebelah mata harus ada sedikit perhatian untuk permasalahan ini. Setidaknya harus diciptakan teknologi baru untuk mengamputasi permasalahan sampah di indonesia, teknologi dari tingkat paling kecil seperti untuk wadah sampah di tempat tempat umum. Karna sebenarnya semua permasalahan lebih mudah ditangani jika ditangani dari akarnya.
Teknologi bisa diaplikasikan untuk mengolah sampah, dengan diciptakannya teknologi untuk pengelolaan sampah setidaknya di wadah sampah terkecil seperti tempat sampah ditempat tempat umum akan mengurangi permasalahan lingkungan akibat pengelolaan sampah di indonesia, seperti mencoba untuk memilah antara sampah organik dan anorganik agar prinsip recycle bisa dijalankan dengan lebih mudah.
Saya memikirkan satu teknologi yang mungkin baru untuk di indonesia. Teknologi untuk tempat sampah dengan sensor untuk pemisah antara sampah organik dan anorganik, dan juga dengan mesin daur ulang otomatis didalamnya. Karna seperti yang kita tahu orang orang di Indonesia masih belum cukup paham dengan perbedaan antara sampah organik dan anorganik, dan juga belum banyak orang yang tahu cara dan mau melakukan daur ulang sampah.
Teknologi tempat sampah bersensor dan daur ulang otomatis, adalah tempat sampah yang diciptakan agar orang orang lebih mudah memilah dan memisahkan antara sampah organik dan sampah anorganik, dengan sensor di tempat sampah tersebut dan agar lebih mudah dan praktis mendaur ulang sampah.
Jadi ditempat sampah tersebut akan ada 3 tempat menampung sampah, tempat menampung sampah organik, anorganik, dan juga untuk sampah yang tidak dapat di daur ulang. Ada juga sensor ditempat masuknya sampah itu, untuk memisahkan antara sampah organik dan sampah anorganik, tempat sampah akan otomatis menutup jika ada orang yang salah memasukan jenis sampah. Dan di tempat menampung sampah organik dan anorganik akan ada mesin untuk mendaur ulang sampahnya dengan ketentuan kapasitas tertentu.
Dengan dipisahkannya sampah organik dan anorganik, akan mempermudah untuk mendaur ulang sampah. Misalnya jika sampah organik sudah mencukupi kapasitas untuk di daur ulang, mesin akan langsung memproses sampahnya untuk didaur ulang menjadi pupuk yang langsung dikemas. Atau sampah anorganik yang mungkin bisa langsung di daur ulang menjadi cidera mata ataupun alat alat rumah tangga.
Teknologi ini akan menguntungkan beberapa bidang seperti pemerintah dan lingkungan itu sendiri. Jika teknologi ini berjalan, pemerintah tidak akan pusing untuk mengumpulkan sampah dari tempat tempat umum. Seperti halnya yang sudah terjadi sampah sampah tersebut hanya menumpuk seperti gunung di bantar gebang karna pengolahaannya yang lambat. Dan dengan otomatis diciptakannya pupuk untuk tanaman dari daur ulang sampah organik itu juga akan membantu mengurangi masalah lingkungan.
Namun teknologi ini juga seharusnya diimbangi dengan kesadaran para penggunanya sendiri dalam konteks ini adalah masyarakat indonesia yang masih sering membuang sampah sembarangan, karna sebenarnya ada 4 aspek yang harus diperhatikan dalam penyelesaian permasalahan sampah yaitu aspek hukum, aspek institusi, aspek pendanaan atau aspek ekonomi, serta aspek sosial-budaya.
Jadi jika teknologi ini ingin dijalankan sebaiknya aspek hukum, aspek institusi, aspek ekonomi dan aspek sosial-budayanya juga harus diperhatikan. Seperti aspek hukum yang harus siap bertindak tegas kepada orang orang yang membuang sampah sembarangan dan juga yang merusak teknologi pendukung ini sendiri, lalu aspek institusi yang seharusnya bisa membantu untuk memberi penjelasan tentang teknologi baru ini kemasyarakat, dan aspek ekonomi/pendanaan yang mungkin dilakukan oleh pemerintah juga harus berani melakukan investasi dana yang besar untuk teknologi ini karena memang mungkin ini salah satu cara terakhir untuk menangani permasalahan sampah di indonesia, dan untuk aspek sosial-budaya masyarakat indonesia juga harus merubah budaya buang sampah sembarangannya seperti di sungai dan saluran saluran air dan memulai pemikiran baru untuk menggunakan teknologi ini agar permasalah sampah di indonesia cepat terselesaikan.

2 komentar: